Nov 10

Love What You Do

A: Yunisa, kapan ya kita bisa ketemuan? Gue mau ngajak lo bisnis nih!
B: Wah boleh tuh! Bisnis apaan?
A: Ada deh. Nanti aja sekalian dijelasin biar ngerti. Minat gak?
B: Oke, gue minat.

 

 

 

Penggalan dialog diatas adalah pembicaraan antara saya dan teman saya, sebut saja si A. A mengajak saya berbisnis dan saya pun tertarik. Akhirnya kami janjian untuk bertemu di suatu tempat. Disana saya temui beberapa teman A yang lain dan ada satu orang yang sepertinya sedari tadi sibuk menjelaskan ini-itu. Setelah teman-teman A yang lain selesai dijelaskan, mereka pamit pulang dan tibalah giliran saya. A dan seorang temannya (sebut saja si C) mulai membuka pembicaraan. C menanyakan apa impian terbesar dalam hidup saya dan diapun menyodorkan beberapa pilihan. Saya pun menjawab bahwa impian terbesar dalam hidup saya adalah menjadi orang sukses. C menjelaskan bahwa untuk mencapai kesuksesan perlu usaha-usaha dan C meyakinkan saya bahwa dia bisa membantu saya sukses dalam waktu relatif singkat. Tentu saja saya antusias dengan apa yang dia tawarkan. Dia mulai menjabarkan satu persatu tentang bisnis ini. Dia bilang bisnis ini intinya adalah menjual produk obat herbal dan sangat cocok dijalankan oleh anak muda seperti saya dan akan lebih baik lagi jika kita bisa mengajak orang lain untuk bergabung karena akan mendapat bonus. Sudah banyak orang-orang yang bergabung dan hanya dalam kurun waktu kurang dari enam bulan bisa membeli mobil, jalan-jalan keluar negeri, menunaikan ibadah haji, dll. Setelah saya teliti lagi, bentuk bisnis ini mirip dengan MLM. Saya pun bertanya, “Oh, jadi semacam MLM ya?” Dia pun dengan sigap menjawab, “Bukan. Kita beda.”

Dalam post kali ini, saya tidak ada maksud untuk menjelek-jelekkan bisnis dengan sistem yang seperti MLM atau membuat statement bahwa saya anti MLM. Saya hanya bosan untuk menolak berbagai ajakan untuk bergabung dengan bisnis semacam ini. Tidak hanya satu teman yang mengajak saya bergabung, tapi ada beberapa lagi yang lainnya.

Kenapa saya memilih untuk menolak tawaran yang menggiurkan ini?

Yang paling utama adalah karena saya tidak punya keahlian dalam bidang marketing. Walaupun mereka berjanji untuk membantu saya membentuk jaringan saya sendiri, saya tetap tidak mau karena bukan pekerjaan jaring-menjaring member ini lah yang saya inginkan. Dan saya pun merasa fokus utama dari bisnis ini bukanlah mendapat uang dari menjual produk melainkan mendapat uang dari hasil bergabungnya member baru. Karena seorang member baru biasanya diharuskan membayar biaya ini-itu.

Yang kedua adalah saya lebih suka pekerjaan yang pasti walaupun harus bersusah payah dibanding pekerjaan yang mengawang-awang. Saat pertama kali diperkenalkan dengan bisnis ini, saya sudah diiming-imingi bahwa saya akan bisa membeli mobil, jalan-jalan keluar negeri, dan lain-lain. Menurut saya ini terlalu besar bagi seorang pemula. Target yang terlalu tinggi ini hanya akan membuat seseorang mengalami tekanan yang tinggi dan jika tidak tercapai maka akan menimbulkan kekecewaan yang besar.

D: Gimana, Yunisa? Kapan ada waktu buat ketemuan?
B: Maaf ya, gue lagi fokus sama kerjaan gue yang sekarang. Kita usaha dengan cara yang berbeda aja ya..
D: Daripada lo capek kerja 8 jam berdiri terus (ya, dia seakan meremehkan pekerjaan part time saya saat ini), cuma dapet sekian (menyebut nominal), mending gabung sama gue. Dalam 2 minggu bisa dapet sekian (menyebut nominal yang lumayan besar).

Dialog diatas adalah penggalan pembicaraan saya dengan teman saya yang lain. Saat dia berbicara seperti itu, jujur saja saya kesal. Dia seperti meremehkan usaha saya. Padahal saya memang lebih suka pekerjaan dengan jobdesk yang jelas walaupun pendapatannya kecil dibanding diiming-imingi nominal yang besar tetapi saya tidak mengerti apa inti dari bisnis yang saya jalankan. Namun saya tidak mau membalas pernyataan dia dengan kata-kata yang terkesan sarkastik, sehingga saya lebih memilih untuk mengakhiri pembicaraan.

Post saya kali ini jujur saja harus saya edit berkali-kali agar tidak terlihat sarkastik. Karena pada prakteknya, saat saya membicarakan tentang bisnis ini, saya menjadi menggebu-gebu dan membeberkan mana yang bisa diterima oleh logika dan mana yang tidak. Kesimpulannya, silahkan saja berusaha dengan gaya dan cara masing-masing. Tapi tidak seharusnya meremehkan usaha orang lain atau terlalu mengagungkan atau menganggap usaha yang dilakukan dirinya adalah yang paling tepat.

1
comments

1 comment!

  1. [...] Love What You Do (10 November 2011) [...]

Reply