Dalam post kali ini, saya akan membahas tentang pengalaman saya sebagai seorang pengguna setia angkutan umum. Yang ingin saya bahas adalah tentang kehadiran para pengamen yang bisa menghibur atau malah meresahkan para pengguna angkutan umum.
Mungkin akan lebih enak jika dimulai dari pengalaman yang menyenangkan. Suatu hari saya pernah pergi ke Bekasi. Kendaraan yang saya tumpangi adalah Patas AC dan lewat jalan tol. Saya sudah bersiap membawa handsfree untuk mendengarkan musik selama perjalanan. Sebelum masuk tol, ada pengamen yang masuk. Otomatis selama perjalanan pengamen tersebut akan ada terus di dalam patas. Tapi beruntunglah, karena suara pengamen tersebut bagus dan saat meminta uang tidak memaksa. Sehingga keberadaan dia tidak membuat risih para penumpang.
Yang kedua adalah ketika saya naik kopaja. Biasanya pengamen yang naik adalah anak muda usia SMA, yang menurut saya mereka bisa melakukan pekerjaan yang lebih produktif seperti menjadi loper koran atau cleaning service dan sebagainya. Sebenarnya saya agak malas untuk memberi uang kepada mereka, tetapi terkadang pembawaan mereka menyeramkan seperti preman. Bahkan terkadang ada yang mengancam atau memaksa. Akhirnya saya pun memberi. Yang lucunya, pernah ada seorang pengamen yang meminta uang sambil memegang silet sambil berkata, “Uang seribu dua ribu tidak akan membuat Anda miskin! Jangan sampai saya merebut barang berharga Anda atau menyilet tas Anda seperti ini,” serunya sambil menyilet sepotong kain. Siapa yang tidak takut diancam seperti itu?
Yang ketiga adalah saat naik angkutan umum kecil, yakni mobil kijang atau semacamnya. Biasanya pengamen yang menguasai ini adalah anak kecil dan anak muda. Ketika yang naik adalah anak kecil dengan pakaian lusuh dan dekil, saya selalu membayangkan jika anak tersebut adalah keponakan saya. Maka rasa kasihan pun muncul, dan saya memberi uang pada mereka. Tetapi ada rasa kesal juga, mengapa orang tua mereka tega menyuruh mereka bekerja seperti itu. Ketika yang naik adalah anak muda, dan mayoritas penumpang tidak mau memberi maka mereka akan mengeluarkan kata-kata sumpah serapah. Ada juga yang memaksa supaya diberi uang. Saya pernah dipaksa, kebetulan saat itu saya duduk di bangku belakang supir dan pengamen bergelantungan di pintu. Saya memang sama sekali tidak ada uang receh. Mereka memaksa dengan menengadahkan tangan sambil memasang wajah seram. Tentu saja ini membuat saya takut, karena kebetulan penumpang di angkot itu hanya ada 3. Saya pun akhirnya menyodorkan uang 5000 sambil berkata, “kembali 4000 ya,” dan mereka pun mengembalikan uang saya sebesar 4000.
Seharusnya, angkutan umum itu memberikan kenyamanan dan keamanan bagi penggunanya. Tapi kehadiran para pengamen ini tidak bisa kita hindari. Sulit untuk menertibkan keberadaan mereka. Sehingga jalan satu-satunya adalah dengan meningkatkan kewaspadaan dan menyiapkan banyak uang recehan.

